Banner Ads 480X60

Rabu, 18 Januari 2017

Standar Kelayakan Berita

Posted by Daniel Ldt Ttnt on Rabu, 18 Januari 2017

sumber gambar collegeofjournalism.com

Tidak salah jika kejadian, peristiwa, atau apapun di sekitar kita yang bisa ditulis dan diberitakan. Namun, tidak dengan sendirinya, semua itu bisa dituliskan menjadi berita. Lho, berita memangnya ada kriterianya? Benar, ada sejumlah syarat yang perlu dipenuhi agar sebuah peristiwa layak dan punya nilai ketika ditulis menjadi berita. Pemenuhan kriteria tersebut berkaitan dengan kebutuhan pembaca (masyarakat).

Secara umum, peristiwa yang dianggap mempunyai nilai atau layak berita adalah yang mengandung unsur-unsur sebagai berikut:
  • Significance (penting) –peristiwa yang mempengaruhi kehidupan masyarakat luas (pembaca). Misalnya, meskipun rutin terjadi, banjir di Jakarta merupakan berita yang selalu layak diberitakan. Alasannya, Jakarta sebagai ibukota negara yang menjadi pusat pemerintahan, ekonomi, dan urusan-urusan besar kenegaraan. Contoh lainnya, kenaikan atau penurunan harga BBM. 
  • Magnitude (besar) – peristiwa yang menyangkut angka-angka besar dan memiliki arti bagi kehidupan masyarakat luas. Dalam hal banjir di Jakarta, berita akan menarik kalau akibat banjir merendam ribuan rumah yang disertai tumbangnya ratusan pohon. Masih menyangkut angka lainnya, sebut misalnya jumlah uang korupsi Rp 100 milyar akan menyedot perhatian daripada korupsi Rp 100 juta (namun bukan berarti yang angkanya kecil diabaikan, tapi porsi perhatian masyarakat kurang), bencana yang memakan korban ribuan, demonstrasi mencapai satu juta orang, dan lain-lain.
  • Impact (Dampak yang Ditimbulkan) – peristiwa yang diberitakan punya pengaruh yang besar bagi masyarakat luas (berkaitan dengan significance dan magnitude).
  • Timeliness (waktu) – peristiwa yang menyangkut hal-hal yang baru terjadi, atau baru dikemukakan. Peristiwanya baru saja terjadi. Misalnya banjir di Jakarta yang terjadi hari ini, bukan 5 atau 10 tahun lalu akan berbeda. Contoh lainnya, ada bus terbakar hari ini akan lebih bernilai daripada berita pesawat jatuh yang terjadi di masa lampau. Meskipun secara angka atau efek yang dihasilkan amat mencengangkan, tetapi masalah waktu juga menentukan kelayakan berita. Kapal yang telah tenggelam 5 tahun lalu dengan korban lebih 500 orang tidak memancing orang lebih tahu dibandingkan kejadian hari ini kapal tenggelan dengan korban 50 orang.
  • Proximity (kedekatan) – peristiwa yang dekat bagi pembaca. Kedekatan ini bisa dapat bersifat geografis atau emosional. Contohnya, listrik mati di London belum menjadi sesuatu yang menarik bagi pembaca Indonesia dibandingkan listrik mati di Jakarta. Benar, listrik mati di London merupakan berita, tetapi kita secara langsung tak punya ikatan emosi. Contoh lainnya, bagi masyarakat Riau kebakaran hutan di Riau lebih menyita perhatian dibanding kebakaran hutan yang terjadi di California, Amerika. Namun, jika ada korban kebakaran di California merupakan warga Indonesia, secara emosional peristiwa itu menjadi nilai berita.
  • Prominence (tenar), peristiwa yang menyangkut orang (tokoh), lembaga (institusi), atau tempat yang amat dikenal masyarakat luas. Oleh karena itu, kerap kita temui peristiwa/kejadian yang menyangkut orang terkenal itu mulai dari tokoh-tokoh negara, politisi, bintang film, musikus/penyanyi, atau olahragawan menghiasi hampir semua media. Bahkan, yang diberitakan, kadang-kadang hal yang remeh-temeh dan tidak memberi manfaat langsung kepada masyarakat. Sementara tempat terkenal, misalnya Menara Pisa di Italia rubuh, maka ketenaran Menara Pisa mempunyai bobot berita yang dapat menyita perhatian masyarakat.
  • Konflik– peristiwa yang menyajikan dua pihak yang saling beradu kekuatan (baik fisik maupun tidak), berlawanan kepentingan, musuh bebuyutan yang bertemu, dan lain-lain. Contohnya perang. Perang di belahan dunia manapun selalu menjadi berita yang selalu diberitakan semua media massa. Sementara konflik yang lain, misalnya demonstrasi petani menentang kebijakan pemerintah yang dianggap merugikan petani, pertandingan sepakbola Barcelona melawan Real Madrid, perselisihan dua tokoh politik, dan lain-lain.
  • Human Interest (manusiawi) – peristiwa yang memberi sentuhan perasaan bagi pembaca, kejadian yang menyangkut orang biasa dalam situasi luar biasa, atau orang besar dalam situasi biasa. Contohnya, keberanian seorang tukang ojek menolong korban saat terjadi bom teroris di Jalan Thamrin Jakarta; guru yang mengabdi di daerah terpencil dengan fasilitas yang terbatas; dokter yang kerap menggratiskan layanan kesehatan, dan lain-lain. Berita yang menampilkan sisi manusiawi ini umumnya muncul dalam feature, bukan berita langsung.
  • Unusualness (luar biasa, aneh, unik) – peristiwa yang langka atau di luar kelaziman, misalnya ular berkepala dua, harimau akrab dengan monyet, atau manusia yang hidup dan tinggal di atas pohon merupakan berita yang mendorong minat orang untuk mengetahui lebih jauh.
  • Seks – Kredo (pernyataan) yang populer dalam jurnalistik, “Berita adalah seks dan seks adalah berita”. Sejarah peradaban manusia mencatat seks sebagai sesuatu yang menarik minta manusia.Seks ini identik dengan perempuan. Segala macam berita seks, selalu dinanti dan bahkan dicari. Seks dapat menunjuk pada keindahan anatomi tubuh perempuan, menyentuh poligami, perselingkuhan para petinggi negara dan selibritis. Dalam beberapa kasus, seks juga kerap disandingkan dengan kekuasaan dan dapat menjadi sumber bencana bagi kedudukan/jabatan seseorang. Jangan heran jika berita seks dengan berbagai variasinya mudah kita temui di hampir semua media.

Kriteria layak berita di atas dapat diperluas, misalnya jarang ditemukan atau jarang terjadi (misalnya manusia dibsarkan srigala di hutan), tindakan luar biasa dan di luar batas kemampuan (misalnya pasukan khusus Angkatan Laut RI saat menyelamatkan korban kapal tenggelam tanpa bantuan tabung pernafasan saat menyelam di kedalaman laut), mengandung kontroversi (misalnya atlet tinju bertanding lawan pencak silat), mengundang tawa (humor), dan lain-lain. Satu unsur sudah cukup menjadi berita, namun apabila ditemukan lebih dari satu unsur dalam sebuah berita, maka kejadian itu bertambah tinggi bobot kelayakanya. Untuk itu, usaha mendapatkan berita besar adalah mencari kejadian yang memiliki sebanyak mungkin unsur layak berita.

Namun, tidak semua peristiwa yang memenuhi kriteria layak berita, tidak selalu sama daya tariknya bagi pembaca, bergantung minat, tempat tinggal, usia, jenis kelamin, dan lain-lain. Posisi pembaca berbeda-beda terhadap kejadian yang ada. Berita tentang selibritis belum tentu menarik bagi si A, namun bagi si B merupakan berita yang layak dia ketehui. Artinya, layak berita selalu berkait dengan aspirasi dan motivasi pembaca. Bisa jadi sebuah berita hanya menarik bagi yang terlibat dalam peristiwa yang diberitakan, misalnya upacara peresmian gedung. Jika berita cuma seremoni saja, bobot beritanya amat rendah, terlebih yang ditulis hanya pidato-pidato peresmian. Intinya, motivasi pembaca mencerminkan keinginan dasar manusia, yaitu memenuhi tujuan hidupnya dan kebutuhan psikologisnya berupa hiburan.

Referensi :

  1. Berbagai Artikel tentang Jurnalistik Online
  2. ...


BELAJAR JURNALISTIK ONLINE

Dasar Jurnalistik Online

Banner Ads 300X250
Previous
« Prev Post

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan : My Blog, My Rules
- Harap Berkomentar Sesuai Dengan Judul Bacaan
- Gunakan Bahasa yang Sopan, Hargai Orang Lain
- Tidak Diperbolehkan Untuk Mempromosikan Barang atau Berjualan
- Bagi Komentar Yang Menautkan Link Aktif Dianggap Spam